BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Multiple
Intelegensi
Kecerdasan (intelegensi) adalah bahasa yang dibicarakan oleh semua
orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana ia dilahirkan.
Kecerdasan
sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan
kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga
masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problemsolved) dan
dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan
adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan
efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi
pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang
yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif yang dimiliki
seseorang disebut dengan kecerdasan.
Howard
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai :
1. Kemampuan memecahkan masalah yang terjadi dalam
kehidupan manusia.
2. Kemampuan menciptakan persoalan baru untuk
diselesaikan.
3. Kemampuan
menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur
tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan-kemampuan yang
dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya (beranekaragam), dan
keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple
intelegensi).
B. Macam-Macam dan Ciri
ciri Multiple Intelegensi.
Menurut
Gardner kecerdasan atau intelegensi ada 8 macam yaitu:
1. Kecerdasan Linguistic (
Linguistik intelligence )
Kecerdasan
Linguistik adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan
menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang
meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
Adapun
ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik, yaitu:
a.
Menirukan suara, bahasa, membaca,
menulis dari orang lainnya.
b.
Menulis secara efektif, memahami dan menerapkan aturan aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca dan
menggunakan kosakata yang efektif.
c.
Memperlihatkan kemampuan unruk
mempelajari bahasa lainnya.
d.
Belajar melaui menyimak, membaca,
menulis dan diskusi.
2.
Intelegensi Logis-Matematis ( Logical Matematich)
Inteligensi
Logis Matematis adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan
mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi operasi
matematis.
Adapun ciri ciri seseorang yang
memiliki kecerdasan logis matematis, yaitu:
a.
Menunjukkan ketrampilan memecahkan
masalah secara logis.
b.
Menyukai operasi yang kompleks,
seperti kalkulus, fisika, dan pemprograman komputer.
c.
Mengungkapkan ketertarikan dalam
karir karir seperti akuntansi, teknologi komputer dan ilmu kimia.
d.
Mengguanakan teknologi untuk
memecahkan masalah matematis.
3.
Intelegensi Musikal ( Musical Intelegence )
Intelegensi
musikal adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada
pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang
menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang
memakai system symbol yang unik.
Adapun ciri ciri seseorang yang
memiliki kecerdasan musikal yaitu :
a.
Mendengarkan dan merespon dengan
ketertarikan terhadap berbagai bunyi.
b.
Mengembangkan kemampuan menyanyi
dan atau memainkan instrumen secara sendiri atau bersama dengan orang lain.
c.
Menungkapkan ketertarikan untuk
berkarir di bidang musik
d.
Menikmati dan mencari kesempatan
untuk mendengarkan musik atau suara suara alam pada suasana belajar.
4.
Intelegensi Kinestetik.
Inteligensi
Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera.
Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran
untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat
diamati pada actor,atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi kinestetik
yaitu :
a.
Menjelajahi lingkungan dan sasaran
melalui sentuhan dan gerakan
b.
Menemukan pendekatan baru dalam
kemampuan fisik atau menciptakan bentuk bentuk baru dalam menari, berolahraga
atau kegiatan fisik lainnya.
c.
Mendemonstrasikan keahlian dalam
berakting, atletik, menari, menjahit, mengukir ukiran atau memainkan musik
sejenis piano.
5.
Intelegensi Visual-Spasial
Intelegensi
visual-spasial merupakan kemampuan memahami, memproses, dan berfikir dalam
memvisualisasikan gambar didalam kepala seseorang dalam bentuk dua atau tiga
dimensi.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki kecerdasan visual spasial
yaitu :
a.
Menggunakan gambaran visual sebagai
sebuah alat bantu dalam mengingat informasi
b.
Memiliki daya imajinasi yang tinggi
c.
Memiliki kelebihan dalam
menyesuaikan sesuatu menjadi serasi
d.
Menikmati gambar gambar tak
beraturan lukisan, ukiran, atau objek objek lain dalam bentuk yang dapat
dilihat.
6.
Intelegensi Interpersonal
Intelegensi
Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang
lain secara efektif.Howard Gardner menjelaskan inteligensi interpersonal adalah
kemampuan untuk mengerti dan pekaterhadap perasaan, watak, intensi,motivasi dan
temperamen orang lain. Termasuk juga kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara
dan isyarat dari orang lain.
Adapun ciri ciri orang yang memiliki
kecerdasan interpersonal yaitu :
a.
Membentuk dan menjaga hubungan
sosial/ pandai berkomunikasi
b.
Mengetahui dan menggunakan cara
cara yang beragam dalam berhubungan dengan orang lain.
c.
Merasakan perasaan, pikiran,
motivasi, tingkah laku dan gaya hidup orang lain
d.
Tertarik pada karir yang
berorientasi interpersonal seperti
mengajar, pekerjaan sosial, konseling, manajemen atau politik.
7.
Intelegensi Intrapersonal
Inteligensi
Intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk mengerti diri sendiri, apa yang
terbaik yang harus dilakukan, apa yang harus dihindari, serta apa saja yang
dapat meningkatkan kemampuan diri. Jenis
kecerdasan ini terdiri dari kemampuan untuk
mengenali emosi diri/ mengenali perasaan sendiri sewaktu perasaan atau emosi
sedang naik, kemampuan mengelola emosi/ mengendalikan perasaan sehingga tidak
meledak ledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku yang salah, kemampuan
memotivasi diri/ kemampuan untuk memberi semangat pada diri sendiri agar dapat
melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.
Gambaran
tentang inteligensi intrapersonal ini adalah seberapa baik seseorang mengerti
diri sendiri.
Adapun
ciri ciri seseorang yang memiliki keserdasan intrapersonal yaitu :
a. Sadar akan wilayah emosinya
b. Bekerja mandiri
c. Berusaha mengaktualisasikan diri
d. Penasaran akan “pertanyaan besar”
tentang makna kehidupan.
8.
Intelegensi Naturalis.
Intelegensi
Naturalis adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna dengan baik, memahami
dan menikmati alam, dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam
berburu, ahli biologi, peneliti alam, bertani, serta mengembangkan pengetahuan
akan alam.
Adapun ciri ciri seseorang yang memiliki inteligensi naturalis
yaitu :
a.
Tertarik dalam mengamati perilaku
alam
b.
Mampu hidup di luar rumah, dapat
berkawan dan berhubungan baik dengan alam
c.
Mencintai lingkungan
C.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi.
Intelegensi
tiap individu cenderung berbeda-beda. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain
sebagai berikut:
a.
Gen atau keturunan
Seseorang yang memiliki orang tua
yang keduanya atau salah satunya cerdas dan berinteligensi tinggi maka tidak
menutup kemungkinan orang itu berinteligensi tinggi pula. Namun jika kedua
orangtua tidak berinteligensi tinggi, mungkin juga ada gen resesif atau
tersembunyi yang tiba tiba muncul, yang kemudian menjadikan anak memiliki
inteligensi yang lebih dibanding kedua orangtuanya.
b.
Pengalaman
Ada benarnya tentang sebuah pepatah
yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dengan berdasarkan
pada pengalaman yang dimiliki, tingkat inteligensi akan berbanding lurus dengan
pengalaman. Bisa jadi, dengan semakin beragamnya pengalaman yang dimiliki maka
inteligensi akan meningkat. Sebaliknya jika memiliki pengalaman yang kurang,
inteligensi akan mengalami sedikit rangsangan sehingga berdampak pada tingkat
inteligensi itu sendiri. Inteligensi akan cenderung statis dan kurang
meningkat.
c.
Latihan
Semakin sering seseorang melatih
diri dan kemampuannya maka inteligensinyapun semakin tinggi. Jika seseorang
tidak membiasakan diri untuk berlatih, tidak menutup kemungkinan kemampuan dan
inteligensi yang dimiliki sebelumnya akan tetap, berkurang atau bahkan berlahan
memudar.
d.
Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor ekstern
yang dapat berpengaruh pada inteligensi seseorang. Apabila lingkungan yang
ditinggali seseorang mendukung dan menyediakan rangsangan untuk mengembangkan
inteligensi yang dimiliki maka inteligensinya pun akan semakin meningkat.
Demikian juga sebaliknya apabila lingkungan tidak mendukung seseorang untuk
meningkatkan inteligensinya, tetu saja inteligensi yang dimiliki orang tersebut
tidak akan berkembang.
Untuk itulah, hal yang sangat
penting bagi kita untuk senantiasa memberikan rangsangan bagi diri kita, bagi
anak anak, dan peserta didik demi mengembangkan inteligensi. Hal ini bisa
dibangun dengan mencoban memberikan dan melakukan kebiasaan kebiasaan yang
dapat menggugah inteligensi. Dengan demikian lingkungan akan benar benar dapat
mendukung peningkatan inteligensi setiap individu.
e.
Reward and Punishment
Seperti halnya dalam teori belajar
yang menyebutkan bahwa reward and punishment dapat mempengaruhi semangat dann
minat belajar seseorang, dalam intelegensi pun berlaku demikian. Adanya reward
and punishment dapat menggugah sesorang untuk mengembangkan intelegensi yang
dimiliki sebelumnya. Ketika sesorang mendapatkan reward dan intelegensi yang
dimilikinya, kecenderungan untuk meningkatkan intelegensinya akan muncul. Hal
ini tentu saja disebabkan keinginan orang ini untuk mendapatkan reward lagi,
atau paling tidak ia tergugah untuk menunjukkan prestasi yang lebih baik lagi.
Demikian juga jika ada punishment
sebagai konsekuensi intelegensi yang ada, kencenderungan unruk memperbaiki
serta meningkatkan intelegensi pun akan tumbuh.
Karena, seseorang tentunya tidak ingin mendapat punishment yang kedua
kalinya sehingga ia akan terdorong untuk berupaya meningkatkan intelegensinya
sendiri.
f.
Pola makan dan asupan gizi
Tak dapat dipungkiri, makanan yang
masuk kedalam tubuh juga berpengaruh terhadap konsidi organ tubuh, tak
terkecuali organ yang berkaitan erat dengan pembentukan serta pengembangan
intelegensi. Dengan demikian secara otomatis, makanan dan supan gizi ikut
mempengaruhi intelegnsi. Jika makanan yang dikonsumsi berupa makanan yang nilai
gizinya cukup dan seimabnag intelegnsi pun dapat berkembang. Sebaliknya, jika
asupan makanan tidak mendukung untuk peningkatan intelegensi tentu saja
intelegensi akan sulit berkembang pesat.
D.
Pengaruh Intelegensi Terhadap Keberhasilan Peserta Didik
Intelegensi
seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang
dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi
searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi
seseorang, maka semakin tinggi prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut
sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan
mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak
mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor
IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan
menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima
pelajaran yang diberikan guru, disampaikan oleh guru dan ada pula anak
yang lamban. Perbedaan individu dalam intelegensi ini perlu diketahui dan
dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siswa.
Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas
intelegensi siswa. Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti
membuat guru harus memandang rendah pada siswa yang kurang, tetapi guru harus
mengupayakan agar pembelajaran yang diberikan dapat membantu semua siswa, tentu
saja dengan perlakuan metode yang beragam.
Selain
itu, perbedaan tersebut juga tampak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi
rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi
rendahnya intelegensi yang dimiliki. Meski demikian, intelegensi bukan merupakan
satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Seperti
telah dikemukakan bahwa banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya. Yang
terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyingkapi
perbedaan tersebut.
E.
Program Pembelajaran yang Mengakomodasi Perkembangan Multiple
Inteligensi
Untuk menerapkan teori multipel intelegensi dalam program
pembelajaran diperlukan usaha yang serius dari guru. Guru harus membiasakan
diri mengembangkan program pelajaran yang berorientasi pada siswa bukan pada
materi atau dirinya sendiri. Tujuannya adalah untuk memudahkan guru dalam
menentukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat mengembangkan
intelegensi siswa secara maksimal. Mengingat multipel intelegensi belum
memasyarakat, maka hal ini akan menjadi penghambat bagi guru untuk
memasukkannya pada saat menyusun program pembelajaran.
Program pembelajaran pengertiannya lebih luas dari kegiatan
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbatas pada aktivitas guru dan siswa di
kelas saja, sedangkan pengertian program pembelajaran adalah menyeluruh mulai
dari rencana pembelajaran, kegiatan pembelajaran sampai dengan produk hasil
dari pengembangan program pembelajaran. Program pembelajaran berbentuk produk
ini dapat berupa kegiatan pembelajaran langsung atau tatap muka, tetapi dapat
juga berbentuk program video, audio, dan sebagainya.
Gardner
menjelaskan bahwa setiap intelegensi bekerja dalam sistem otak yang relatif
otonom. Artinya setiap intelegensi mengelola informasi secara parsial, namun
pada saat mengeluarkannya memproduksi kembali kedelapan intelegensi yang ada,
intelegensi tersebut bekerja sama secara unik untuk menghasilkan informasi yang
dibutuhkan. Di sekolah, guru adalah orang yang berkepentingan dalam
mengembangkan program-program pembelajaran dikelasnya. Dalam mengembangkannya
guru dimungkinkan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan
kreatif dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah dengan menggunakan
strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi.
Menurut
Amstrong dalam Robinson (2004), strategi pembelajaran berbasis multiple intelegensi
ini merupakan suatu upaya mengoptimalkan berbagai intelegensi yang dimiliki
setiap siswa untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut dalam kurikulum.
Pada prakteknya strategi pembelajaran berbasis multipel intelegensi ini memacu
kecerdasan yang menonjol pada diri siswa seoptimal mungkin, dan berupaya
mempertahankan intelegensi lainnya pada standar minimal yang dituntut sekolah.
Dengan kata lain, penerapan strategi multipel intelegensi dalam pengembangan
program-program pembelajaran menguntungkan bagi siswa. Siswa akan berkembang
sesuai dengan jati dirinya yang potensial pada salah satu atau lebih
intelegensi yang dimilikinya.
Adapun
langkah-langkah yang dapat digunakan dalam menerapkan strategi pembelajaran
berbasis multiple inteligensi antara lain:
1. Memberdayakan
semua intelegensi yang dimiliki setiap siswa
Memberdayakan
semua intelegensi pada setiap mata pelajaran adalah ibarat meng-input melalui
jalur ke dalam otak memori siswa. Contoh perhatikan TIK berikut: siswa dapat
mempelajari proses fotosintesis melalui tujuh cara/intelegensi. Intelegensi
yang mencakup TIK tersebut adalah intelegensi bahasa, logis-matematis, musik,
kinestik, interpersonal dan intrapersonal. Dengan demikian, tingkat belajar
siswa akan lebih tinggi dibanding jika siswa hanya membaca buku atau mendengar
penjelasan dari guru saja.
2. Mengoptimalkan
pecapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan intelegensi yang menonjol pada
setiap siswa
Langkah
ini dapat diterapkan jika guru telah mengidentifikasi inteelegensi apa yang
menonjol pada siswa-siswanya. Dengan demikian strategi pembelajaran yang
dipilih lebih bersifat individual atau personal. Untuk siswa yang lebih
menonjol intelegensi bahasanya, maka guru harus merancang program pembelajaran
yang merangsang dan mengembangkan intelegensi siswa dalam kemampuan berbahas,
dan seterusnya.
Pada
kenyataannya, pengembangan program-program pembelajaran yang merupakan teori
multipel intelegensi tidaklah mudah, terutama mencakup evaluasinya. Evaluasinya
harus multi asesmen artinya penilaian harus bervariasi dan dapat memberikan
banyak motivasi dan merupakan penilaian yang menarik. Untuk mewujudkan evaluasi
yang multipel asesmen tidaklah mudah. Dalam pembelajaran berbasis multipel
intelegensi penilaian membatasi atau bahkan mengurangi penggunaan skor tes
sebagai penilaian tunggal. Penggunaan pola-pola penilaian alternatif sehingga
semua unsur mendapat perhatian yang optimal, baik tentang hasil belajar siswa
maupun tentang pengembangan intelegensi siswa.
Hambatan
yang mungkin dialami guru pada saat pengembangan program pembelajaran yang
menerapkan teori multipel intelegensi, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Guru belum mempunyai wawasan yang cukup
tentang multipel intelegensi.
2. Guru
butuh dukungan dari pimpinan sekolah atau pengelola sekolah untuk mengembangkan
program-program pembelajaran yang berbasis multiple intelegensi karena untuk
persiapan pengembangan program pembelajaran memerlukan waktu lama serta
bimbingan narasumber.
3. Dukungan
dari sekolah yang belum maksimal, dalam penyediaan sarana belajar seperti alat
peraga atau media pembelajaran dan ruang belajar yang kondusif dan lain-lain
tergantung kegiatan-kegiatan apa yang akan dilaksanakan serta sumber materi apa
yang akan digunakan..
BAB III
PENUTUP
Kecerdasan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang.
Kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya
(beranekaragam), dan keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan
kecerdasan majemuk (multiple intelegensi).
Menurut Gardner kecerdasan atau intelegensi ada 8 macam yaitu:
kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan visual spasial,
kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal, kecerdasan naturalis.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi inteligensi yaitu : gen atau
keturunan, pengalaman, latihan, lingkungan, reward and punishment, pola makan
dan asupan gizi.
DAFTAR
PUSTAKA
A.King,
Laura. 2007. Psikologi Umum. Jakarta :Salemba Humanika
Azwar,
Saifuddin. 1996. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Campbell,
Linda. 2006. Metode Praktis Pembelajaran. Depok : Intuisi Press
Syurfah, Ariany. 2009. Multiple Intelligences for Islamic
Teaching. Bandung : Sygma Publishing
Ula, Shoimatul. 2013. Revolusi Belajar. Yogyakarta : Ar Ruzz
Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar